Minggu, 22 Februari 2015

Jumat, 20 Februari 2015

Sejenak...


Sepintas memang terlihat baik-baik saja, tapi setelah dirasakan dengan khitmat, nyatanya tidak nyaman juga. Kenapa sih semua orang ingin terlihat keren didepan orang lain? Yah, yah, status sosial memang penting dimasyarakat, dan pengakuan itu perlu dilakukan untuk emosi dan ketenangan jiwa juga bukan? Tapi setidaknya, jujurlah sedikit pada diri sendiri bahwa tidak selamanya kita bisa menjadi orang lain didepan beberapa orang.

Terkadang aku menemukan kemajemukan didalam diri-seseorang. Ini lain halnya dengan proses adaptasi atau yang orang bilang punya kepribadian ganda.
Aku rasa kalau semua orang dikategorikan seperti ini, semua orang akan punya penyakit yang sama: berkepribadian ganda!

Kamu tahu,
disini (yah, disini!),
Masih banyak orang yang akan menerima kamu apa adanya. Menerima kamu bahkan jika kamu mempermalukan dirinya sebagai sahabatnya, rela ikut ditertawakan, atau rela berkorban...

Teman,
Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan tentangku saat kita berada di atmosfer yang berbeda
Dari yang kemarin, Tapi
Kenapa harus seperti ini?

Bisakah kita biasa saja? Seperti dulu saat kita bertemu?

Rabu, 18 Februari 2015

Inner-peace?




Saya yakin seratus persen. Seyakin matahari terbit dari barat waktu kiamat.
Memperbaiki diri bukan hanya masalah ibadah, ilmu, atau fisik belaka. Emosi kadang-kadang membuat semuanya goyah. Tiba-tiba menjadi anak kecil yang begitu ngambeknya luar biasa dahsyat sampai tak tahu apa penyebabnya. Aneh sekali.
Kedamaian jiwa,
Satu-satunya cara
Ia membuka cakrawala kehidupan,
Menenangkan emosi diri yang selalu berguna dalam situasi kapanpun, dimanapun.
               
Tapi,
Kenapa begitu menyebalkan ketika dipikirkan, sampai-sampai teori diatas seperti tak ada gunanya. Lagi-lagi terjerumus dengan kecemburuan semu.
Angin sepoi, lantai yang sejuk, suasana gerimis mengelimuti pagi, sirna…
Selamat datang matahari!
Siang terik, panas, gerah berkeringat!
Tak ada bedanya dengan kelakuanmu yang membuatku begini!
Bahkan aku rasa pagi tak akan datang lagi, menyedihkan!
Sungguh kecewa


Tik Tok



Ketika sesuatu telah menghilang, aku berpijak pada khayalan
Memikirkan apa lagi yang harus aku lakukan dan mencari jalan keluar dari bualan mimpi…


Kamu, ketika saat aku merasa bosan
Ketika lelah dan jengah
Memikirkan kamu saja sudah senang, apa lagi kalau ngobrol begini?
Tapi saat banyak hal bermunculan, aku kembali ragu seperti dulu
Merasa ini seperti main petak umpet saat masih SD saja
Banyak yang disembunyikan
Tak jujur
Kadang saling menipu.

Aku terlalu takut
Takut mengganggu permainan yang menyenangkan itu saat aku menjadi pemain baru
Atau takut
Ternyata aku memang telah menjadi pemain pasif yang tak pernah mau menjadi penjaga
Hanya bersembunyi
Tak pernah keluar dan baru berani ketika benteng pertahanan melemah
Tidak kah aku begitu?

Dasar pengecut!
Aku sebenarnya terlalu kesal dengan semua ini
Banyak yang tidak jelas dari role permainan
Seharusnya aku berbuat apa? Maunya apa?

Tapi mauku hanya satu
Kamu harus berbuat curang
Berbuat tak adil hanya untuk menemukanku
Menemukan aku yang sesungguhnya
Mengabaikan yang lain
Dan hanya terpaku
Terhadapku

Bogor