Kamis, 07 Agustus 2014

Garis kematian


            Siapapun pernah merasa bosan saat menulis, atau jangan-jangan berhenti ditengah jalan karena kekurangan ide. Bukan, bukan kekurangan! tapi tak ada ide lagi! Lalu, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan saat dikejar garis kematian itu, tapi tulisanku tak kunjung ada akhirnya. Benar-benar merasa tertipu saat dalam persyaratan tak terikat ‘tema’, tahunya sebuah sms memberitahu bahwa ide pemikiran yang harus ditaati itu benar-benar sulit dipahami dan bertolak belakang dengan rencana pembuatan.
            Aku memandang langit-langit. Tiduran diatas rumput hijau lembab yang tak tahu pernah dikencingi kucing atau tidak. Aku mengerjap-ngerjap silau karena sekarang pukul sebelas empat puluh delapan yang berarti sang sumber energi kehidupan bumi akan berada ditingkat puncak dalam pemberian panasnya. Tepat diatas kepalaku.
            Aku bangun lagi. Memandang layar laptopku yang berwarna utama biru abu-abu persis rok sekolah anak sma dan ada persegi panjang berwarna putihnya. Dalam persegi itu ada kata-kata dan sebuah garis panjang hitam satu senti berdiri berkelap-kelip diujung kata-kata itu.
            Tragedi tunjuk-menunjuk tak pernah terbayangkan akan berakhir pada diriku seperti ini. Kelas tahun pertama kadang kala menjadi sorotan wajib bagi mahasiswa tingkat atas yang notabene harus selalu dihormati karena memang lebih tinggi dari strata keilmuan maupun tingkat umurnya, kadang kala membuat suatu acara yang tak terduga dan melibatkan kami si-tahun pertama ini. Tapi dalam acara perlombaan seni yang harus mewajibkan tiap kelas mengirimkan perwakilannya atau jika tidak mendapatkan denda yang tak murah, siapa yang mau rugi? Komti yang bingung, resah, dan gelisah karena tak ada yang mau ikut mata lomba ini, akhirnya menunjukku sebagai wakil cabang lomba menulis novelet dan gambar poster.
Yah, gambar poster bisa diatasi dengan perlombaannya yang dilakukan pada hari-H, tapi mana mungkin aku bisa menyelesaikan tugas menulis ini dalam waktu kurang dari lima puluh enam jam? Siapa yang sanggup untuk sebuah death line tak berperikemanusiaan hanya karena si penanggung jawab kelas tak tahu diri itu lupa memberi tahu bahwa pengumpulan akhir tulisannya dipercepat?
Langit biru berubah keabuan. Dengan lembut, rintik-rintik hujan dengan diameter yang tak pernah bisa aku hitung berjatuhan dengan sangat konstan. Jarang-jarang. Anak-anak awan itu berjatuhan diatas wajahku. Saat orang-orang berlarian mencari tempat beratap takut hujan sungguhan benaran datang, aku malah menengadah. Menikmati hujan yang sudah lama tak kurasakan.
***
            Detik penantian itu tiba. Lima menit lagi pengumpulan gerbang novelet itu ditutup