Senin, 24 November 2014

Metamorfosis



video
이승철 - 사랑하나 봐



Ingatkah kamu hari itu?
Diawal oktober
Ternyata sejak awal saya sudah memilih kamu
Untuk alasan yang berbeda
Meski tidak sama tapi kini banyak hal yang telah terlewati

Ada hal aneh yang kurasakan disini
Tiba-tiba aku menjadi pemilik dunia
Tersenyum sendiri karena berbunga-bunga
Wajah merahku tidakkah terlalu terlihat?
Mendengar banyak guyonan itu
Sampai mengira kau tak perah serius

Terkadang air mata ini mengalir
Ditengah hujan
Ditengah tawamu
Bukankah itu akan menjadi ingatan yang menyakitkan?
Makin aneh saja
Karena aku masih saja memikirkanmu

Bukan cinta, bukan air mata, bukan pula waktu yang terlalu lama
Ini benar-benar tidak cocok denganku
Tapi aku masih saja mencoba demi kamu
Masih mencoba meski berpura-pura tak tahu
Mencoba menyadarkan diri
Bahwa aku menyukaimu

25 November 2014, Duet lagu & isi hati 

Desember...




Hari ini,
Seseorang mengunggah beberapa foto kemedia sosial. Dia itu temanku. Didalam foto-foto itu juga teman-temanku. Aku tersenyum memandang senyum-senyum didalamnya, dan makin melebar ketika memandang kesebuah senyuman yang menarik.

Sedang jatuh cintakah?
Saya hanya bisa mengartikannya dengan dua kata itu. Atau juga bisa diartikan bahagia.
Aku ingat, pagi itu, dihari kamu bisa tersenyum selebar itu, saya mendapat hadiah spesial dari-Nya. Saya senang sekali. Apakah ini juga yang membuat kamu sebahagia itu? Ketika pagi itu kita saling bertemu

Saya tahu didalam senyum itu masih ada beban yang menunggu diselesaikan. Ini itu... banyak sekali diusia yang masih sangat muda. Tapi saya juga tahu kamu berusaha untuk istirahat sejenak dengan foto ini.
Bisakah aku melihat senyum seperti itu ketika kita bertemu nanti? ah tidak, ketika aku melihatmu nanti?

Waktu telah terhabiskan tanpa melihat mata itu, wajah itu, diri itu. Tidak ada kata lain,
Saya kangen banget sama kamu.
Bisakah kita bertemu satu kali saja diakhir 2014 ini?

Senin, 29 September 2014

Memories...



Waktu itu...
Saat mata itu tertutup karena terlalu lelah. Aku tahu banyak hal yang ingin kau lepas dan ingin tidur meski semenit saja.
Aku cuma tersenyum tipis sekali saat itu... wajahnya lucu dengan mata terpejam.
Aku hitung, memang benar cuma semenit saja, bodohnya! tanganmu masih saja memegang pengatur jadwal itu. Sehabis bangun, kau menengok lagi kebenda itu, melihat kabar kegiatanmu selanjutnya. Wajah yang murung lagi.

Lelah ya? Tidakkah kamu tahu begitu inginnya aku mendengar keluh kesahmu? selalu ingin menjadi yang pertama melihat dan mendengar cerita bahagiamu, menerima tangkai daisy setiap malamnya, dan menjadi seseorang yang selalu istimewa bagimu.

Aku pernah cemburu, saat itu melihatmu bercerita ini itu bukan denganku, atau sekedar bersenda gurau dengan lainnya lagi.

Saat bertemu lagi, aku ingin melihat tawa lucu itu, atau godaan manis yang mungkin tak akan kudapatkan. Bercerita tentang masa depan, jodoh, atau bahkan anak nantinya membuatku sekali lagi bahagia. Senyum malu-malu itu membuatku berdebar. Aku sangat menyukainya.

Aku mohon,
Aku ingin selalu menjadi orang yang ada disampingmu. Memelukmu saat kau bersedih, menangislah dibahuku...


Bogor 2014, Rohmah Mustaurida dalam cinta pertamanya

Kamis, 07 Agustus 2014

Garis kematian


            Siapapun pernah merasa bosan saat menulis, atau jangan-jangan berhenti ditengah jalan karena kekurangan ide. Bukan, bukan kekurangan! tapi tak ada ide lagi! Lalu, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan saat dikejar garis kematian itu, tapi tulisanku tak kunjung ada akhirnya. Benar-benar merasa tertipu saat dalam persyaratan tak terikat ‘tema’, tahunya sebuah sms memberitahu bahwa ide pemikiran yang harus ditaati itu benar-benar sulit dipahami dan bertolak belakang dengan rencana pembuatan.
            Aku memandang langit-langit. Tiduran diatas rumput hijau lembab yang tak tahu pernah dikencingi kucing atau tidak. Aku mengerjap-ngerjap silau karena sekarang pukul sebelas empat puluh delapan yang berarti sang sumber energi kehidupan bumi akan berada ditingkat puncak dalam pemberian panasnya. Tepat diatas kepalaku.
            Aku bangun lagi. Memandang layar laptopku yang berwarna utama biru abu-abu persis rok sekolah anak sma dan ada persegi panjang berwarna putihnya. Dalam persegi itu ada kata-kata dan sebuah garis panjang hitam satu senti berdiri berkelap-kelip diujung kata-kata itu.
            Tragedi tunjuk-menunjuk tak pernah terbayangkan akan berakhir pada diriku seperti ini. Kelas tahun pertama kadang kala menjadi sorotan wajib bagi mahasiswa tingkat atas yang notabene harus selalu dihormati karena memang lebih tinggi dari strata keilmuan maupun tingkat umurnya, kadang kala membuat suatu acara yang tak terduga dan melibatkan kami si-tahun pertama ini. Tapi dalam acara perlombaan seni yang harus mewajibkan tiap kelas mengirimkan perwakilannya atau jika tidak mendapatkan denda yang tak murah, siapa yang mau rugi? Komti yang bingung, resah, dan gelisah karena tak ada yang mau ikut mata lomba ini, akhirnya menunjukku sebagai wakil cabang lomba menulis novelet dan gambar poster.
Yah, gambar poster bisa diatasi dengan perlombaannya yang dilakukan pada hari-H, tapi mana mungkin aku bisa menyelesaikan tugas menulis ini dalam waktu kurang dari lima puluh enam jam? Siapa yang sanggup untuk sebuah death line tak berperikemanusiaan hanya karena si penanggung jawab kelas tak tahu diri itu lupa memberi tahu bahwa pengumpulan akhir tulisannya dipercepat?
Langit biru berubah keabuan. Dengan lembut, rintik-rintik hujan dengan diameter yang tak pernah bisa aku hitung berjatuhan dengan sangat konstan. Jarang-jarang. Anak-anak awan itu berjatuhan diatas wajahku. Saat orang-orang berlarian mencari tempat beratap takut hujan sungguhan benaran datang, aku malah menengadah. Menikmati hujan yang sudah lama tak kurasakan.
***
            Detik penantian itu tiba. Lima menit lagi pengumpulan gerbang novelet itu ditutup

Jumat, 25 Juli 2014

Epiclotus

Terlalu sibuk bukan alasan yang kuat
Sejak dulu...
Dahulu kala

Saya udah mencoba menyesuaikan diri denganmu yang baru
tapi perubahan itu terlalu cepat dan gak mungkin aku kejar

Ketika aku biarkan,
saya malah cemburu dengan kamu yang baru
dengan kawan-kawan barumu
rumahmu...

Realita

Apakah saya boleh menghilang saja?
lalu muncul dan berkenalan sekali lagi denganmu?
Atau aku pura-pura jadi orang lain dan sehingga bisa kembali bersenda gurau?

Saya cuma gak mau canggung
Canggung itu gak enak!
Salah tingkah,
Keringetan,
Grogi,
Macem-macem.